MAKALAH
“HAKIKAT
PEMBELAJARAN SEBAGAI BIDANG STUDI BIOLOG (IPA)”
Disusun Oleh :
1. Wiwik Wijayanti. (2012-59-010)
2. Yusuf Numberi. (2012-59-0
3. Catur Irianti Santoso. (2012-59-009)
JURUSAN
BIOLOGI
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
NEGERI PAPUA
MANOKWARI
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
IPA merupakan konsep pembelajaran alam
dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia.
Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan
Teknologi, karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan minat manusia serta
kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemahaman
tentang alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan masih
bersifat rahasia sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu
pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, IPA memiliki peran yang sangat penting. Kemajuan IPTEK yang
begitu pesat sangat mempengaruhi perkembangan dalam dunia pendidikan terutama
pendidikan IPA di Indonesia dan negara-negara maju.
Pendidikan IPA telah berkembang di Negara-negara maju dan telah terbukti dengan
adanya penemuan-penemuan baru yang terkait dengan teknologi. Akan tetapi di
Indonesia sendiri belum mampu mengembangkannya. Pendidikn IPA di Indonesia
belum mencapai standar yang diinginkan, padahal untuk memajukan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sains penting dan menjadi tolak ukur kemajuan
bangsa.
Kenyataan yang terjadi di Indonesia,
mata pelajaran IPA tidak begitu diminati dan kurang diperhatikan. Apalagi
melihat kurangnya pendidik yang menerapkan konsep IPA. Permasalahan ini
terlihat pada cara pembelajaran IPA serta kurikulum yang diberlakukan sesuai
atau malah mempersulit pihak sekolah dan siswa didik, masalah yang dihadapi
oleh pendidikan IPA sendiri berupa materi atau kurikulum, guru, fasilitas,
peralatan siswa dan komunikasi antara siswa dan guru.
Oleh sebab itu untuk memperbaiki
pendidikan IPA diperlukan pembenahan kurikulum dan pengajaran yang tepat dalam
pendidikan IPA. Masalah ini juga yang mendasasri adanya kurikulum yang di
sempurnakan (KYD) yang saat ini sedang di kembangkan di sekolah-sekolah, yaitu
KTSP.
1.
BAB II
HAKIKAT PEMBELAJARAN BIDANG STUDI BIOLOGI (IPA)
2.1 Pengertian Pendidikan.
Pendidikan menurut Siswoyo
(2007: 21) merupakan “proses sepanjang hayat dan perwujudan pembentukan diri
secara utuh dalam arti pengembangan segenap potensi dalam rangka pemenuhan dan
cara komitmen manusia sebagai makhluk individu dan makhluk social, serta
sebagai makhluk Tuhan”.
Sugiharto (2007: 3) menyatakan
bahwa “pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja
untuk mengubah tingkah laku manusia baik secara individu maupun kelompok untuk
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan”.
Dari definisi di atas dapat
disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu proses sadar dan terencana dari
setiap individu maupun kelompok untuk membentuk pribadi yang baik dan
mengembangkan potensi yang ada dalam upaya mewujudkan cita-cita dan tujuan yang
diharapkan.
Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwapendidikan tidak hanya menitik
beratkan pada pengembangan pola piker saja, namun juga untuk mengembangkan
semua potensi yang ada pada diri seseorang. Jadi pendidikan menyangkut semua aspek
pada kepribadian seseorang untuk membuat seseorang tersebut menjadi lebih baik.
2.2 Konsep IPA
Istilah Ilmu Pengetahuan Alam atau
IPA dikenal juga dengan istilah sains. Kata sains ini berasal dari bahasa Latin
yaitu scientia yang berarti ”saya tahu”. Dalam bahasa Inggris, kata sains
berasal dari kata science yang berarti ”pengetahuan”. Science kemudian
berkembang menjadi social science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan
ilmu pengetahuan sosial (IPS) dan natural science yang dalam Bahasa Indonesia
dikenal dengan ilmu pengetahuan alam (IPA).
Dalam kamus Fowler (1951), natural
science didefinisikan sebagai: systematic and formulated knowledge dealing with
material phenomena and based mainly on observation and induction (yang
diartikan bahwa ilmu pengetahuan alam didefinisikan sebagai: pengetahuan
yang sistematis dan disusun dengan menghubungkan gejala-gejala alam yang
bersifat kebendaan dan didasarkan pada hasil pengamatan dan induksi).
Sumber lain menyatakan bahwa natural science didefinisikan sebagai a piece of
theoretical knowledge atau sejenis pengetahuan teoritis.
IPA merupakan cabang pengetahuan
yang berawal dari fenomena alam. IPA didefinisikan sebagai sekumpulan
pengetahuan tentang objek dan fenomena alam yang diperoleh dari hasil pemikiran
dan penyelidikan ilmuwan yang dilakukan dengan ketrampilan bereksperimen dengan
menggunakan metode ilmiah.
Definisi ini memberi pengertian
bahwa IPA merupakan cabang pengetahuan yang dibangun berdasarkan pengamatan dan
klasifikasi data, dan biasanya disusun dan diverifikasi dalam hukum-hukum yang
bersifat kuantitatif, yang melibatkan aplikasi penalaran matematis dan analisis
data terhadap gejala-gejala alam. Dengan demikian, pada hakikatnya IPA
merupakan ilmu pengetahuan tentang gejala alam yang dituangkan berupa fakta,
konsep, prinsip dan hukum yang teruji kebenarannya dan melalui suatu rangkaian
kegiatan dalam metode ilmiah.
Dalam perkembangan selanjutnya,
metode ilmiah tidak hanya berlaku bagi IPA tetapi juga berlaku untuk bidang
ilmu lainnya. Hal yang membedakan metode ilmiah dalam IPA dengan ilmu lainnya
adalah cakupan dan proses perolehannya. IPA meliputi dua cakupan yaitu IPA
sebagai produk dan IPA sebagai proses. Science is both of knowledge and a
process (Trowbridge and Sund, 1973:2).
Secara umum, kegiatan dalam IPA berhubungan dengan eksperimen. Namun dalam
hal-hal tertentu, konsep IPA adalah hasil tanggapan pikiran manusia atas gejala
yang terjadi di alam. Seorang ahli IPA (ilmuwan) dapat memberikan sumbangan
besar kepada IPA tanpa harus melakukan sendiri suatu percobaan, tanpa membuat
suatu alat atau tanpa melakukan observasi.
2.2.1 IPA sebagai Metode Khusus
Metode khusus yang dimaksud
merupakan langkah-langkah seorang ilmuwan dalam memperoleh pengetahuan.
Pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan gejala-gejala alam. Pengetahuan
berupa teori yang diperoleh melalui hasil perhitungan atau pemikiran tidak akan
bertahan kalau tidak sesuai dengan hasil observasi, sehingga suatu teori tidak
dapat berdiri sendiri. Teori selalu didasari oleh hasil pengamatan.
Dengan demikian, IPA juga merupakan pengetahuan teoritis yang diperoleh dengan
metode khusus (Nokes, 1941).
Planet Neptunus tidak akan dapat ditemukan secara teoritis jika sebelumnya
tidak ada pengamatan yang menyaksikan suatu keanehan dalam lintasan planet
lainya. Atau dapat dikatakan bahwa Planet Neptunus tidak ditemukan berdasarkan
hasil observasi melainkan melalui perhitungan-perhitungan. Demikian halnya
dengan pembuktian teori Einstein yang secara ekperimental tidak dilakukan oleh
Einstein.
2.2. IPA sebagai Metode Ilmiah
Jika IPA merupakan suatu jenis
pengetahuan teoritis yang diperoleh dengan cara yang khusus, maka cara tersebut
dapat berupa observasi, eksperimentasi, pengambilan kesimpulan, pembentukan
teori, observasi dan seterusnya. Cara yang demikian ini dikenal dengan metode
ilmiah (scientific method).
2.3 Karakteristik IPA
IPA disiplin ilmu memiliki ciri-ciri sebagaimana disiplin ilmu lainnya.
Setiap disiplin ilmu selain mempunyai ciri umum, juga mempunyai ciri
khusus/karakteristik. Adapun ciri umum dari suatu ilmu pengetahuan adalah
merupakan himpunan fakta serta aturan yang yang menyatakan hubungan antara satu
dengan lainnya. Fakta-fakta tersebut disusun secara sistematis serta dinyatakan
dengan bahasa yang tepat dan pasti sehingga mudah dicari kembali dan dimengerti
untuk komunikasi (Prawirohartono, 1989: 93).
* Ciri-ciri khusus tersebut dipaparkan
berikut ini:
a. IPA mempunyai nilai ilmiah artinya
kebenaran dalam IPA dapat dibuktikan lagi oleh semua orang dengan menggunakan
metode ilmiah dan prosedur seperti yang dilakukan terdahulu oleh
penemunya.
Contoh : nilai ilmiah ”perubahan kimia” pada lilin yang dibakar.
Artinya benda yang mengalami perubahan kimia, mengakibatkan benda hasil
perubahan sudah tidak dapat dikembalikan ke sifat benda sebelum mengalami
perubahan atau tidak dapat dikembalikan ke sifat semula.
b. IPA merupakan suatu kumpulan
pengetahuan yang tersusun secara sistematis, dan dalam penggunaannya secara
umum terbatas pada gejala-gejala alam.
c. IPA merupakan pengetahuan teoritis.
Teori IPA diperoleh atau disusun
dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan observasi,
eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, observasi dan demikian
seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain.
d. IPA merupakan suatu rangkaian konsep
yang saling berkaitan.
Dengan bagan-bagan konsep yang telah berkembang sebagai suatu hasil eksperimen
dan observasi, yang bermanfaat untuk eksperimentasi dan observasi lebih lanjut
(Depdiknas, 2006).
e. IPA meliputi empat unsur, yaitu
produk, proses, aplikasi dan sikap.
Produk dapat berupa fakta,
prinsip, teori, dan hukum. Proses merupakan prosedur pemecahan masalah melalui
metode ilmiah; metode ilmiah meliputi pengamatan, penyusunan hipotesis,
perancangan eksperimen, percobaan atau penyelidikan, pengujian hipotesis
melalui eksperimentasi; evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan.
Aplikasi merupakan penerapan metode atau kerja ilmiah dan konsep IPA dalam
kehidupan sehari-hari. Sikap merupakan rasa ingin tahu tentang obyek, fenomena
alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru
yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar.
2.4 Karakteristik Belajar IPA
Berdasarkan karakteristiknya, IPA
berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga
IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta,
konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses
penemuan. Pemahaman tentang karakteristik IPA ini berdampak pada proses belajar
IPA di sekolah.
Sesuai dengan karakteristik
IPA, IPA di sekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk
mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih
lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan
karakteristik IPA pula, cakupan IPA yang dipelajari di sekolah tidak hanya
berupa kumpulan fakta tetapi juga proses perolehan fakta yang didasarkan pada
kemampuan menggunakan pengetahuan dasar IPA untuk memprediksi atau menjelaskan
berbagai fenomena yang berbeda.
Cakupan dan proses belajar IPA
di sekolah memiliki karakteristik tersendiri. Uraian karakteristik belajar IPA
dapat diuraikan sebagi berikut.
a.
Proses belajar IPA melibatkan hampir semua alat indera.
seluruh proses berpikir, dan
berbagai macam gerakan otot.
Contoh : untuk mempelajari pemuaian pada benda, kita perlu melakukan
serangkaian kegiatan yang melibatkan indera penglihat untuk mengamati perubahan
ukuran benda (panjang, luas, atau volume), melibatkan gerakan otot untuk
melakukan pengukuran dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dengan benda yang
diukur dan cara pengukuran yang benar, agar diperoleh data pengukuran
kuantitatif yang akurat.
b.
Belajar IPA dilakukan dengan menggunakan berbagai macam cara (teknik). Misalnya, observasi, eksplorasi, dan eksperimentasi.
c.
Belajar IPA memerlukan berbagai macam alat.
Terutama untuk membantu pengamatan. Hal ini dilakukan karena kemampuan
alat indera manusia itu sangat terbatas. Selain itu, ada hal-hal tertentu bila
data yang kita peroleh hnya berdasarkan pengamatan dengan indera, akan
memberikan hasil yang kurang obyektif, sementara itu IPA mengutamakan
obyektivitas.
Contoh : pengamatan untuk mengukur suhu benda diperlukan alat bantu pengukur
suhu yaitu termometer.
d.
Belajar IPA seringkali melibatkan kegiatan-kegiatan temu ilmiah.
(misal seminar, konferensi atau
simposium), studi kepustakaan, mengunjungi suatu objek, penyusunan hipotesis,
dan yang lainnya. Kegiatan tersebut kita lakukan semata-mata dalam rangka untuk
memperoleh pengakuan kebenaran temuan yang benar-benar obyektif.
Contoh : sebuah temuan ilmiah baru untuk memperoleh pengakuan kebenaran, maka
temuan tersebut harus dibawa ke persidangan ilmiah lokal, regional, nasional,
atau bahkan sampai tingkat internasional untuk dikomunikasikan dan
dipertahankan dengan menghadirkan ahlinya.
e.
Belajar IPA merupakan proses aktif.
Belajar IPA merupakan sesuatu
yang harus siswa lakukan, bukan sesuatu yang dilakukan untuk siswa. Dalam
belajar IPA, siswa mengamati obyek dan peristiwa, mengajukan pertanyaan,
memperoleh pengetahuan, menyusun penjelasan tentang gejala alam, menguji
penjelasan tersebut dengan cara-cara yang berbeda, dan mengkomunikasikan
gagasannya pada pihak lain.
Keaktifan dalam belajar IPA
terletak pada dua segi, yaitu aktif bertindak secara fisik atau hands-on dan
aktif berpikir atau minds-on (NRC, 1996:20).
Keaktifan secara fisik saja tidak cukup untuk belajar IPA, siswa juga harus
memperoleh pengalaman berpikir melalui kebiasaan berpikir dalam belajar IPA.
Para ahli pendidikan dan pembelajaran IPA menyatakan bahwa pembelajaran IPA
seyogianya melibatkan siswa dalam berbagai ranah, yaitu ranah kognitif,
psikomotorik, dan afektif.
Para ahli pendidikan dan
pembelajaran IPA menyatakan bahwa pembelajaran IPA seyogianya melibatkan siswa
dalam berbagai ranah, yaitu ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif. Hal ini
dikuatkan dalam kurikulum IPA yang menganjurkan bahwa pembelajaran IPA di
sekolah melibatkan siswa dalam penyelidikan yang berorientasi inkuiri, dengan
interaksi antara siswa dengan guru dan siswa lainnya. Melalui kegiatan
penyelidikan, siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
pengetahuan ilmiah yang ditemukannya pada berbagai sumber, siswa menerapkan
materi IPA untuk mengajukan pertanyaan, siswa menggunakan pengetahuannya dalam
pemecahan masalah, perencanaan, membuat keputusan, diskusi kelompok, dan siswa
memperoleh asesmen yang konsisten dengan suatu pendekatan aktif untuk
belajar.
Dengan demikian, pembelajaran IPA
di sekolah yang berpusat pada siswa dan menekankan pentingnya belajar aktif
berarti mengubah persepsi tentang guru yang selalu memberikan informasi dan
menjadi sumber pengetahuan bagi siswa (NRC, 1996:20). Ditinjau dari isi dan
pendekatan kurikulum pendidikan sekolah tingkat pendidikan dasar dan pendidikan
menengah yang berlaku saat ini maupun sebelumnya, pembelajaran di sekolah
dititikberatkan pada aktivitas siswa. Dengan cara ini diharapkan pemahaman dan
pengetahuan siswa menjadi lebih baik. Kenyataan di lapangan, aktivitas siswa
sering diartikan sempit. Bila siswa aktif berkegiatan, walaupun siswa sendiri
tidak mengetahui (merasa pasti) untuk apa berbuat sesuatu selama pembelajaran,
maka dianggap pembelajaran sudah menerapkan pendekatan yang aktif.
Proses pembelajaran IPA di
sekolah menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan
kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Hal ini
disebabkan karena IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi
kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat
diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak
berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat SD/MI diharapkan pembelajaran
IPA ada penekanan pembelajaran Salingtemas (sains, lingkungan, teknologi, dan
masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat
suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara
bijaksana.
2.5 Kedudukan IPA Sebagai Proses, Produk
dan Sikap Ilmiah
2.5.1 IPA Sebagai Proses.
Mari kita telusuri materi kajian
IPA sebagai proses dari sajian berikut ini. IPA sebagai proses mengandung
pengertian cara berpikir dan bertindak untuk menghadapi atau merespons
masalah-masalah yang ada di lingkungan. Jadi, IPA sebagai proses menyangkut
proses atau cara kerja untuk memperoleh hasil (produk) inilah yang kemudian
dikenal sebagai proses ilmiah. Melalui proses-proses ilmiah akan didapatkan
temuan-temuan ilmiah.
Perwujudan proses-proses ilmiah ini berupa kegiatan ilmiah yang disebut sebagai
inkuiri/penyelidikan ilmiah. Secara sederhana Nyoman (1985-1986: 8)
mendefinisikan inkuiri ilmiah sebagai usaha mencari pengetahuan dan kebenaran.
Sejumlah proses IPA yang
dikembangkan para ilmuwan dalam mencari pengetahuan dan kebenaran ilmiah itulah
yang kemudian disebut sebagai keterampilan proses IPA. Iskandar (1997:5)
mengartikan keterampilan proses IPA adalah keterampilan yang dilakukan oleh
para ilmuwan.
Ditinjau dari tingkat kerumitan dalam penggunaannya, keterampilan proses IPA
dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu keterampilan:
• Proses Dasar (Basic Skills) dan
• Keterampilan Proses Terintegrasi (Integrated Skills) (Moejiono dan Dimyati,
1992:1)
2.5.2 IPA Sebagai Produk.
Produk IPA adalah sekumpulan
hasil kegiatan empirik dan kegiatan analitik yang dilakukan oleh para ilmuwan
selama berabad-abad. Produk IPA yang disebut istilah adalah sebutan, simbol
atau nama dari benda-benda dan gejala-gejala alam, orang, tempat.
Pudyo (1991: 2) menyebutkan bentuk-bentuk produk IPA meliputi istilah, fakta,
konsep, prinsip, dan prosedur
Contoh:
• malaria (sebutan)
• lamda (simbol untuk panjang gelombang)
• matahari (nama benda)
• angin puting beliung (gejala alam)
• Newton (nama orang)
• Galapagos (nama tempat).
Iskandar (1997: 3) menyatakan bahwa
fakta adalah pernyataan-pernyataan tentang benda-benda yang benar-benar ada,
atau peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi dan sudah dikonfirmasi secara
objektif.
Sementara itu Susanto (1991: 3) mengartikan fakta sebagai ungkapan tentang
sifat-sifat suatu benda, tempat, atau waktu adanya atau terjadinya suatu benda
atau kejadian. Sifat yang dimaksud dapat berupa wujud, bentuk, bangun, ukuran,
warna, bau, rasa dan yang lainnya.
Contoh:
• fakta mengenai sifat: air jeruk rasanya asam.
• fakta mengenai waktu: Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17
Agustus 1945.
• fakta mengenai tempat: Ujung Kulon (tempat suaka badak bercula satu)
• fakta mengenai orang: Mukibat (adalah orang Indonesia penemu teknik
menyambung singkong)
2.5.3 IPA Sebagai Sikap Ilmiah.
Sikap ilmiah adalah sikap tertentu yang diambil dan dikembangkan oleh
ilmuwan untuk mencapai hasil yang diharapkan (Iskandar, 1996/1997: 11).
Sikap-sikap ilmiah meliputi:
a. Obyektif terhadap fakta. Obyektif
artinya menyatakan segala sesuatu tidak dicampuri oleh perasaan senang atau
tidak senang.
Contoh: Seorang peneliti menemukan bukti pengukuran volume benda 0,0034 m3,
maka ia harus mengatakan juga 0,0034m3, padahal seharusnya 0,005m3.
b. Tidak tergesa-gesa mengambil
kesimpulan bila belum cukup data yang mendukung kesimpulan itu.
Contoh: Ketika seorang ilmuwan menemukan hasil pengamatan suatu burung mempuyai
paruh yang panjang dan lancip, maka dia tidak segera mengatakan semua burung
paruhnya panjang dan lancip, sebelum data-datanya cukup kuat mendukung
kesimpulan tersebut.
c. Berhati terbuka artinya bersedia
menerima pandangan atau gagasan orang lain, walaupun gagasan tersebut
bertentangan dengan penemuannya sendiri. Sementara itu, jika gagasan orang lain
memiliki cukup data yang mendukung gagasan tersebut maka ilmuwan tersebut tidak
ragu menolak temuannya sendiri.
d. Tidak mencampuradukkan fakta dengan
pendapat.
Contoh: Tinggi batang kacang
tanah di pot A pada umur lima (5) hari 2 cm, yang di pot B umur lima hari
tingginya 6,5 cm. Orang lain mengatakan tanaman kacang tanah pada pot A
terlambat pertumbuhannya, pernyataan orang ini merupakan pendapat bukan fakta.
e. Bersikap hati-hati. Sikap
hati-hati ini ditunjukkan oleh ilmuwan dalam bentuk cara kerja yang didasarkan
pada sikap penuh pertimbangan, tidak ceroboh, selalu bekerja sesuai prosedur
yang telah ditetapkan, termasuk di dalamnya sikap tidak cepat mengambil
kesimpulan. Pengambilan kesimpulan dilakukan dengan penuh kehati-hatian
berdasarkan fakta-fakta pendukung yang benar-benar akurat.
f. Sikap ingin menyelidiki atau keingintahuan
(couriosity) yang tinggi. Bagi seorang ilmuwan hal yang dianggap biasa oleh
orang pada umumnya, hal itu merupakan hal penting dan layak untuk diselidiki.
Contoh: Orang menganggap hal yang biasa ketika melihat benda-benda jatuh,
tetapi tidak biasa bagi seorang Issac Newton pada waktu itu. Beliau berpikir
keras mengapa buah apel jatuh ketika dia sedang duduk istirahat di bawah pohon
tersebut. Pemikiran ini ditindaklanjuti dengan menyelidiki selama
bertahun-tahun sehingga akhirnya ditemukannya hukum Gravitasi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Kedudukan IPA pada dimensi proses
ditunjukkan oleh sejumlah keterampilan proses IPA dasar dan terintegrasi.
Keterampilan proses IPA diartikan sebagai keterampilan yang dilakukan oleh para
ilmuwan. Dalam proses IPA terkandung cara kerja dan cara berpikir untuk
kemajuan IPA itu sendiri.
2. Proses-proses IPA yang termasuk ke dalam keterampilan proses IPA dasar
adalah:
• mengamati
• mengukur
• mengklasifikasi
• menginterpretasi
• memprediksi
• mengkomunikasikan hasil
• menggunakan alat
• menarik kesimpulan
3. Proses-proses IPA yang termasuk ke dalam keterampilan proses IPA
terintegrasi adalah:
• merumuskan masalah penelitian/percobaan
• mengidentifikasi dan mendeskripsikan variabel
• mendeskripsikan hubungaan antar variabel
• mengendalikan dan kemungkinan mengontrol variabel
• mendefinisikan variabel secara operasional
• memperoleh dan menyajikan data
• mengolah data, • menyusun hipotesis
• merancang penelitian/penyelidikan
• melakukan penelitian/penyelidikan
4. Pada tataran penerapan, keterampilan proses dasar lebih sederhana dibanding
dengan penerapan keterampilan proses terintegrasi yang lebih kompleks.
Penerapan keterampilan proses terintegrasi lebih rumit karena memerlukan
penggunaan keterampilan proses yang lain. Keterampilan proses dasar merupakan
modal dasar untuk dapat mengembangkan keterampilan proses terintegrasi.
5. Kedudukan IPA pada dimensi produk mengkaji produk-produk IPA yang diperoleh
dari kegiatan serangkaian proses-proses IPA. Produk-produk IPA meliputi:
• istilah
• fakta
• konsep
• prinsip
• prosedur (urutan proses dari suatu kejadian/fenomena alam)
6. Kedudukan IPA pada dimensi sikap: dipahami sebagai sikap-sikap yang
diperlukan oleh para ilmuwan dalam melakukan proses-proses ilmiah. Sikap-sikap
ilmiah meliputi:
• obyektif terhadap fakta
• tidak cepat mengambil kesimpulan jika data yang mendukung belum kuat/lengkap
• berhati terbuka
• berhati-hati
• tidak mencampur adukkan fakta dengan pendapat
• ingin menyelidiki
DAFTAR PUSTAKA
http://aadesanjaya.blogspot.com/2010/10/hakikat-pembelajaran-ipa.html diakses
pada 03 Nopember 2011
http://anwarholil.blogspot.com/2009/01/hakikat-pembelajaran-ipa.html diakses
pada 03 Nopember 2011
Dwi Siswoyo, dkk. (2007). Ilmu Pendidikan. Yogyakarta. UNY Press
Djohar.(1990).Pendidikan Sains.Yogyakarta:FMIPA UNY
Masnur Muslich. (2007). KTSP Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta:PT
Bumi Aksara
Muhammad Joko Susilo. (2007). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Manajemen
Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Mulyasa. (2006). Kurikulum yang Disempurnakan: Pengambangan Standar Kompetensi
dan Kompetensi Dasar. Bandung: PT Remaja Rasdakarya